Penjelasan Peristiwa Berbasis Supranatural

Tinuku
News KeSimpulan.com - Bayi lahir dengan polos. Alam gaib tidak spontan pada anak-anak. Mereka belajar supranaturalisme seiring waktu dalam proses tawar menawar.

Hingga hari ini cukup banyak pandangan yang mengambil asumsi bahwa manusia terlahir dari alam gaib. Mereka yang berpandangan tersebut mengklain bahwa di dalam otak kita cenderung tertanam otomatis segala macam konsep supranaturalisme.

Meskipun banyak penelitian tidak menemukan skenario tersebut, begitu banyak artikel dan buku cukup tendensius menulis bahwa manusia dan agama bawaan kompatibel.

Salah satu cara populer untuk menyelidiki 'kealamian' agama adalah melihat apakah ide-ide supranatural secara alami tertanam dalam benak anak-anak.

Ini yang dilakukan Jacqueline Woolley, psikolog University of Texas, dan rekan.

Mereka membacakan beberapa cerita pendek kepada 67 anak berusia 8-12 tahun dan 22 orang dewasa. Semua cerita disusun sedemikian rupa agar 'sulit untuk dijelaskan'.

Misalnya, seorang koruptor yang kaya mendadak sehingga mampu membeli mobil, tetapi kemudian mengalami kecelakaan. Cerita lainnya seorang pasien kanker dengan 'ajaib' sembuh. Seorang atlit lari wanita yang akan menikah tiba-tiba tersandung dan terluka sehingga pernikahannya gagal.

Cerita-cerita yang dirancang untuk menggambarkan plot peristiwa seolah-olah muncul dari basis keadilan moral, intervensi dewa/tuhan atau keberuntungan/nasib. Di sini alam gaib dirangsang.

Setelah semua, hal yang mengejutkan bahwa anak-anak hampir tidak pernah mempersembahkan penjelasan supranatural. Sebaliknya, mereka mengatakan mungkin pasien kanker banyak tidur sehingga membantunya lekas sembuh.

Pada sampel dewasa telah siap dengan penjelasan supranatural. Ada kecenderungan semakin bertambah umur, semakin besar kemungkinan mereka menjelaskan kejadian-kejadian aneh dengan sudut pandang supranatural.

Untuk verifikasi, Woolley memberi beberapa saran penjelasan supranatural kepada mereka. Anak-anak cenderung setuju bahwa dewa/tuhan atau penjelasan supranatural lainnya masuk akal. Jadi bukan mereka tidak sadar konsep supranatural, hanya saja mereka tidak melakukan secara spontan.

Artinya supranaturalisme adalah hasil proses tawar-menawar kognitif. Titik krusial bahkan anak-anak beragama lebih mungkin memberikan penjelasan naturalistik daripada supranatural. Tapi mereka lebih mungkin memberikan penjelasan supranatural daripada anak-anak non-agama.

Anak-anak juga lebih mungkin memberikan penjelasan berbasis dewa/tuhan seiring waktu atau umur. Woolley menemukan hubungan ini hanya signifikan pada sekitar umur 12 tahun ke atas.

Secara umum manusia tidak cenderung untuk berpikir secara supranatural. Namun jelas dalam beberapa keadaan dan nampaknya beberapa orang lebih cenderung untuk berpikir secara supranatural daripada yang lain.

Berpikir rasional merupakan proses neuroral yang hard-wired pada Homo sapiens. Bahkan kita lahir dengan berbagai macam alat untuk memahami dunia sekitar. Artinya, tradisi memegang peran penting dalam membentuk bagaimana kecenderungan seseorang merespon lingkungan berbasis supranaturalisme.
  1. Jacqueline D. Woolley; Chelsea A. Cornelius; Walter Lacy. Developmental Changes in the Use of Supernatural Explanations for Unusual Events. Journal of Cognition and Culture, Volume 11, Issue 3, pages 311-337, 2011, DOI:10.1163/156853711X591279
  2. Jonathan D. Lane, Henry M. Wellman, E. Margaret Evans. Children’s Understanding of Ordinary and Extraordinary Minds. Child Development. Volume 81, Issue 5, pages 1475-1489, September/October 2010, DOI:10.1111/j.1467-8624.2010.01486.x

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment