Perlombaan Senjata Evolusioner Telur Pipit

Tinuku
News KeSimpulan.com - Perang evolusioner tidak terjadi di sarang penyamun tetapi di sarang sendiri. Perlombaan senjata spektrum warna mengevolusi telur burung.

Telur dua spesies burung pipit Afrika telah berevolusi pola warna yang berbeda selama hanya 40 tahun. Perubahan cepat tampaknya didorong oleh tamu yang tidak diinginkan di dalam sarang. Burung penyusup yang menyusupkan telurnya ke sarang. Laporan di The American Naturalist.

Burung Pipit Cuckoo (Anomalospiza imberbis) adalah induk parasit. Mereka bertelur di sarang burung spesies lain.

Pipit Cuckoo berharap dapat mengelabui pemilik sarang sehingga membesarkan anak mereka.

Agar tidak diusir dari sarang, telur Cuckoo mengevolusi diri sehingga terlihat mirip dengan telur-telur target paling umum yaitu Pipit Coklat Prinia (Prinia subflava).

Tapi Prinia melakukan serangan balik. Telur mereka memiliki pola kompleks fitur dan bervariasi secara substansial dalam warna dari induk ke induk.

Warna-warna dan pola variabel berarti telur Cuckoo tidak akan selalu cocok dan Prinia sering dapat membedakannya sehingga melempar telur Cuckoo keluar dari sarang mereka.

Claire Spottiswoode dan Martin Stevens, ekolog University of Cambridge, menunjukkan mimikri Cuckoo dan pertahanan Prinia mendorong perubahan evolusioner warna telur kedua spesies seiring waktu. Mereka menyadari ketika perjalanan penelitian mereka di alam Zambia menemukan telur Cuckoo dan Prinia berbeda dengan koleksi telur di museum.

"30 tahun lalu, telur kutilang cuckoo terlihat merah bagi mata kita, tapi sekarang didominasi biru. Telur Prinias pada gilirannya lebih sering warna zaitun, mungkin untuk membedakan dengan telur penyusup," kata Stevens.

Untuk menguji, Spottiswoode dan Stevens, menghitung perubahan pola spot dan warna pada telur dulu dan sekarang. Model dikalibrasi untuk melihat telur melalui mata burung yang lebih baik ketika melihat warna dan sinar ultraviolet yang membedakan. Telur-telur berubah warna dengan cepat.

Perubahan terdeteksi terjadi hanya dalam 40 tahun, kedipan mata dalam proses evolusi. Seleksi alam harus dimulai ketika Prinias bertelur dengan warna baru yang membuat telor Cuckoo terlihat. Akibatnya, dua spesies terkunci dalam perlombaan abadi dalam spektrum warna.

"Sama seperti manusia perlu menciptakan obat baru untuk mengalahkan bakteri dan virus, sehingga pertahanan tubuh mengalami perubahan yang cepat untuk menghindari cuckoos," kata Spottiswoode.
  1. Claire N. Spottiswoode and Martin Stevens (University of Cambridge). Host-Parasite Arms Races and Rapid Changes in Bird Egg Appearance. The American Naturalist, Vol.179, No.5 (May 2012), pp.633-648, DOI:10.1086/665031

Claire Spottiswoode http://www.zoo.cam.ac.uk/zoostaff/bbe/Spottiswoode/Claire1.htm
Martin Stevens http://www.zoo.cam.ac.uk/zoostaff/bbe/stevens/martin1.htm

Gambar : Claire Spottiswoode

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment