Plasmodium falciparum Resisten Artemisinin

Tinuku
News KeSimpulan.com - Parasit malaria Plasmodium falciparum melakukan perlawanan dengan mengubah genom agar resisten terhadap obat artemisinin.

Tim peneliti menemukan wilayah genom yang menunjukkan respon perlawanan parasit malaria sehingga resisten terhadap artemisinin, obat paling efektif saat ini. Gen resistensi obat malaria ini tampaknya telah menyebar di negara-negara Asia Tenggara.

Artemisinin dipakai di mana-mana untuk mengatasi malaria yang endemik. Perlawanan pertama kali diidentifikasi pada tahun 2005 di barat Kamboja.

Perlawanan tidak selalu menyebabkan artemisinin gagal, tapi memperlambat pembersihan parasit Plasmodium falciparum dalam darah pasien.

Para ilmuwan khawatir strain tahan artemisinin juga menyebar ke sub-Sahara Afrika seperti yang pernah terjadi pada obat klorokuin dan antifolate.

Ian Cheeseman, genetikawan Texas Biomedical Research Institute di San Antonio, dan rekan membandingkan populasi Plasmodium falciparum Kamboja, Thailand dan Laos setelah diberi artemisinin.

Dengan memetakan perbedaan huruf tunggal DNA 91 parasit, tim menemukan bukti seleksi terbaru sebagai respon evolusioner resistensi di 33 area genom, variasi di dua daerah yang berdekatan pada kromosom 13. Di wilayah ini menyumbang setidaknya sepertiga variasi yang diwariskan.

Beberapa gen bisa bertanggung jawab terhadap resistensi artemisinin. Tapi tidak ada bukti perlawanan berkembang karena mutasi pada gen. Kemungkinan hasil dari mutasi pada non-coding sekuens genetik yang mengubah aktivitas gen.

"Pada titik ini, kita masih dalam kegelapan tentang mekanisme resistensi," kata Cheeseman.

Perlawanan bersifat parsial dimana parasit masih terpengaruh oleh artemisinin, ini menunjukkan biologi yang kompleks. Perlawanan kemungkinan melibatkan beberapa gen, mungkin di wilayah genom lebih lanjut. Tugas yang menakutkan untuk menemukan secara lengkap sifat genetik tersebut.

"Penelitian ini menyoroti beberapa area kunci sehingga kita bisa fokus pada area genom tersebut," kata Dennis Kyle, parasitolog University of South Florida di Tampa.

Resistensi tidak mudah diteliti di laboratorium. Ada tanda-tanda ketahanan artemisinin merupakan masalah yang akan berkembang. Perlawanan artemisinin muncul di sepanjang perbatasan Thailand dan Myanmar setidaknya 8 tahun lalu dan terus berkembang.

"Jika parasit tahan artemisinin terus menyebar, ini menjadi masalah. Kita tidak memiliki banyak cadangan obat," kata Kyle.
  1. Ian H. Cheeseman (Texas Biomedical Research Institute, San Antonio, TX 78245, USA) et.al. A Major Genome Region Underlying Artemisinin Resistance in Malaria. Science 6 April 2012: Vol.336 no.6077 pp.79-82, DOI:10.1126/science.1215966
  2. Aung Pyae Phyo (Faculty of Tropical Medicine, Mahidol University, Bangkok, Thailand; Shoklo Malaria Research Unit, Mae Sot, Tak, Thailand) et.al. Emergence of artemisinin-resistant malaria on the western border of Thailand: a longitudinal study. The Lancet, Early Online Publication, 5 April 2012, DOI:10.1016/S0140-6736(12)60484-X

Ian Cheeseman http://txbiomed.org/departments/genetics/genetics-staff-bio?u=171
Dennis Kyle http://personal.health.usf.edu/dkyle/

Gambar : CDC/Mae Melvin

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment