Spesiasi Refugia Hominin Out of Africa

Tinuku
News KeSimpulan.com - Fakta yang aneh bahwa salah satu mekanisme yang lebih kuat untuk menjelaskan spesiasi allopatric pra-publikasi Origin Darwin.

Perubahan iklim dan sebelum fragmentasi berjalan kontinu sehingga mengisolasi dan populasi terpencar. Pada tahun 1846, naturalis Edward Forbes mengusulkan perubahan iklim selama Pleistosen menyumbang distribusi spesiesiasi tumbuhan di Eropa.

Darwin secara mandiri datang pada kesimpulan yang sama tetapi tidak pernah menggunakan konsep-konsep ini untuk menjelaskan spesiasi.

Ernst Mayr dalam Systematics and the Origin of Species (1942) menulis spesies baru berkembang jika populasi secara geografis terisolasi dari spesies orangtua.

Mayr memberi bukti empiris dengan mengamati spesiasi burung dan ikan akibat perubahan iklim dan refugia geografis.

Sekarang JR Stewart dan Chris Stringer melakukan hal yang sama pada hominin.

Temuan hominin tampaknya terisolasi dan misterius seperti Homo floresiensis, Homo Denisovan, dan Red Deer Cave, menunjukkan isolasi geografis jangka panjang yang tersebar tipis di seluruh lanskap Eurasia. Sementara penjelasan biasa untuk tema hambatan isolasi geografis tidak sepenuhnya memuaskan.

Luas distribusi, meskipun langka, hominin di Eurasia dibahas pada kemampuan mereka untuk mengatasi hambatan tersebut. Jika hominin menyebar begitu luas, harus ada penjelasan lain atau tambahan untuk penjelasan isolasi.

Adakah populasi pelopor migrasi kecil dan terisolasi dari awal? Apakah mereka hanya mengembara dari kelompok sekitar dan tidak pernah kontak lagi? Ataukah rentang fragmen perubahan iklim sebelumnya berdekatan sehingga menambah isolasi? Stewart dan Stringer berdebat untuk yang kedua. Ketika kita memasuki Anthropocene perubahan iklim mempercepat.

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana evolusi Out of Africa terjadi Stewart dan Stringer mengusulkan fitur misterius beberapa morfologi hominin dan arkeologi dapat dijelaskan melalui proses ini. Dalam daftar mereka meliputi diferensiasi dan dinamila populasi di Eropa yaitu Homo heidelbergensis hingga Homo Neanderthalensis dan Homo sapiens sapiens.

Teori refugia menjadi elegan. Selama antar-gletser, saat iklim menghangat dan sumber daya berlimpah, populasi berkembang. Perluasan populasi sering mempertahankan arus yang memungkinkan aliran gen di antara keluarga-keluarga dekat.

Selama glasial, ketika iklim mendingin dan sumber daya kurang berlimpah, populasi terkontraksi. Kadang-kadang kehilangan kontak dengan kelompok-kelompok dekat dan genetik terisolasi. Pada gilirannya perubahan evolusioner melalui seleksi tergantung pada kondisi setempat. Perbedaan semakin kuat.
  1. J.R. Stewart (School of Applied Sciences, Bournemouth University, Talbot Campus, Poole, Dorset BH12 5BB, UK) dan C.B. Stringer (Department of Palaeontology, Natural History Museum, London SW7 5BD, UK. E-mail: jstewart@bournemouth.ac.uk (J.R.S.); c.stringer@nhm.ac.uk (C.B.S.)). Human Evolution Out of Africa: The Role of Refugia and Climate Change. Science, 16 March 2012: Vol.335 no.6074 pp.1317-1321, DOI:10.1126/science.1215627
  2. Ernst Mayr and Robert J. O'Hara. The Biogeographic Evidence Supporting the Pleistocene Forest Refuge Hypothesis. Evolution, Vol.40, No.1 (Jan 1986), pp.55-67, Published by: Society for the Study of Evolution, Article Stable URL: http://www.jstor.org/stable/2408603

Gambar : Peter Schouten
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment