Berpikir Analitis Mengikis Keyakinan Tuhan

Tinuku
News KeSimpulan.com - Charles Darwin dan Albert Einstein terkenal tidak percaya pada dewa/tuhan yang supranatural, seperti halnya para ilmuwan pada hari ini.

Sebagian besar orang percaya pada dewa/tuhan supranatural. Namun ada jutaan orang non dewa dan agnostik. Sementara para ilmuwan telah mulai menekuni sains agama, kita tahu sedikit tentang apa yang menyebabkan percaya. Sekarang muncul alasan bahwa berpikir analitis meredupkan keyakinan supranatural dengan memblokir proses berpikir intuitif.

Will Gervais dan Ara Norenzayan, psikolog University of British Columbia di Vancouver, mencoba memecah kebuntuan.

Sebuah studi yang mengkaitkan kausalitas variabel percaya agama dengan variabel berpikir analitis.

Laporan di Science menawarkan bukti empiris ketika orang terlibat dalam berpikir analitis, mereka cenderung mengikis keyakinan agama.

Orang yang malas menjelaskan fenomena alam cenderung jatuh pada penjelasan supranatural

Dengan kata lain, semakin Anda cenderung mngatasi masalah dengan lebih berpikir daripada mengandalkan insting, semakin kecil kemungkinan Anda untuk menyerahkan masalah pada lembaga supernatural.

Jelas bahwa nilai keyakinan agama secara inheren tidak rasional. Tapi jujur tidak akan mencegah beberapa penganut non agama menyatakan bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa agama adalah hasil dari penalaran yang buruk. Dalam pandangan ekstrem apapun juga berlaku terbalik bahwa agama merupakan musuh nyata ketika mendidik berpikir analitis.

Ini studi berharga. Bagaimanapun sulit menundukkan keyakinan agama untuk tes ilmiah. Penting bahwa kita berusaha untuk melakukannya, sedikit untuk memahami bagaimana dan mengapa agama dapat mempromosikan kebodohan, kefanatikan dan konflik.

Masalahnya hampir tidak mungkin untuk merancang penyelidikan atas 'keyakinan agama' karena begitu banyak bentuk yang koheren dan konsistensi prinsip bahkan pada individu tertentu. Hal ini seperti mencoba untuk mempelajari apa yang membuat orang nampak 'artistik' dengan atribut orang suci.

Manusia menggunakan dua sistem kognitif terpisah untuk memproses informasi yaitu proses yang cepat (emosional dan intuitif) dan proses lambat (analitis). Sistem pertama adalah bawaan dalam kepribadian atau mental yang mengarahkan pada keyakinan dewa/tuhan supernatural.

Orang yang lebih mengandalkan pemikiran intuitif menjadi lebih mungkin percaya perdewaan, sedangkan orang yang lebih analitis cenderung sebaliknya. Ini tidak selalu berarti berpikir analitis menyebabkan tidak percaya, tetapi aktif berpikir analitis dapat menimpa sistem intuitif, dan sebaliknya.

Gervais dan Norenzayan menggunakan ini untuk menguji hubungan kausal dengan meminta 93 mahasiswa untuk menilai keyakinan mereka sendiri pada dewa/tuhan dan agen supranatural lainnya seperti malaikat. Beberapa minggu kemudian, mereka menjalani "priming" untuk berpikir analitis. Kelompok kontrol diberi tugas kurang analitis.

Norenzayan dan Gervais kemudian meminta untuk menilai kembali keyakinan supranatural mereka yang telah terkena priming analitis secara konsisten menurunkan kepercayaan supranatural terlepas dari tingkat keyakinan sebelumnya. Tes ini juga berlaku pada untuk 148 orang dewasa lainnya.

"Kebiasaan berpikir analitis bisa menjadi salah satu alasan para ilmuwan cenderung non agamis," kata Norenzayan.

Paparan ilmiah dapat mengikis kepercayaan, tidak hanya melalui temuan seperti evolusi. Orang malas menjelaskan fenomena alam cenderung jatuh pada penjelasan supranatural. Namun demikian Norenzayan memperingatkan bahwa proses tidak sederhana, berpikir analitis tidak langsung sekuler.

Gervais dan Norenzayan melihat agama sebagai tradisi literalis yaitu aspek gaya hidup yang diwujudkan dalam kebanyakan budaya, tetapi hampir tidak menyentuh agama seperti yang diartikulasikan para intelektual terkemuka seperti Thomas Aquinas, David Hume, Immanuel Kant dan George Berkeley.

"Banyak hal yang mempromosikan keyakinan agama, seperti ketakutan akan kematian, faktor lain yang melanggengkan supranaturalisme," kata Norenzayan.
  1. Will M. Gervais dan Ara Norenzayan (University of British Columbia, Vancouver, BC V6T1Z4, Canada). Analytic Thinking Promotes Religious Disbelief. Science 27 April 2012: Vol.336 no.6080 pp.493-496, DOI:10.1126/science.1215647
  2. Adam L. Alter et.al. Overcoming intuition: Metacognitive difficulty activates analytic reasoning. Journal of Experimental Psychology: General, Vol 136(4), Nov 2007, 569-576, DOI:10.1037/0096-3445.136.4.569

Ara Norenzayan http://www2.psych.ubc.ca/~ara/
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment