Gaya Kognitif Menyisihkan Intuisi Dewa Tuhan

Tinuku
News KeSimpulan.com - Gaya kognitif analitik menunjukkan kecenderungan untuk menyisihkan intuisi yang sangat menonjol ketika terlibat dalam pemecahan masalah.

Beberapa penelitian menarik mengungkapkan orang yang mengambil pendekatan yang lebih deliberatif untuk pemecahan masalah, bukan hanya dengan respon alamiah atau instingtif, juga kurang religius. Sekarang beberapa penelitian independen menegaskan temuan-temuan baru sekaligus memperpanjang tema.

Usulan hipotesis lanjutan seperti bagaimana link gaya berpikir terhadap keyakinan agama.

Gordon Pennycook, psikolog University of Waterloo di Ontario, Kanada, dan rekan datang membawa data.

Tim menyelidi hipotesis gaya kognitif analitik dikaitkan dengan riwayat klaim supernatural, baik religinitas dan paranormalitas.

Beberapa indikator variabel yaitu kepercayaan terhadap dewa/tuhan, keterlibatan ritual agama (layanan keagamaan, berdoa, dll), keyakinan konvensional agama (surga, neraka, dll) dan keyakinan paranormal (ekstra-indrawi, levitasi, dll) yang dihubungkan dengan kinerja kognitif dan gaya kognitif analitik.

Tes pada 267 orang dari seluruh dunia (kebanyakan Amerika Utara dan Inggris). Tim memberi serangkaian pertanyaan yang masing-masing memiliki jawaban salah secara intuitif. Untuk mendapatkan jawaban benar, Anda harus berpikir lebih analitik. Satu pertanyaan sebagai berikut:

"A bat and ball cost $1.10 in total. The bat costs $1 more than the ball. How much does the ball cost?

Jawaban intuitif adalah $0.10, tetapi jawaban yang benar adalah $0.05. Kita harus cermat bahwa gaya kognitif memiliki landasan mindset. Orang yang percaya pada dewa/tuhan personal secara tidak proporsional mungkin sudah mendapatkan setiap pertanyaan dengan salah.

Hasilnya, pantheis yang percaya pada dewa/tuhan sebagai kekuatan impersonal, menjawab paling buruk. Deis yang percaya pada dewa/tuhan impersonal yang tidak campur tangan di alam semesta, menjawab lebih baik.

Responden orang agnostik cenderung menjawab semakin lebih baik. Sedangkan orang Ateis yang tidak percaya dewa/tuhan sama sekali, cenderung memberikan jawaban paling benar.

Pennycook juga menunjukkan bahwa orang yang berpikir semakin mendalam cenderung tidak terlibat dalam kegiatan keagamaan. Bahkan kedua efek yaitu keyakinan agama dan paranormal bekerja ketika variabel lain seperti usia, jenis kelamin, pendidikan dan IQ di kontrol. Kita bisa menafsirkan bukti bahwa ide-ide keagamaan bersifat intuitif.

Tetapi Pennycook tidak setuju dan menyarankan titik masalah bahwa banyak ide-ide keagamaan sebenarnya berlawanan dengan intuisi. Berpikir mendalam mungkin tidak mengambil ide-ide keagamaan pada masalah nominal dan lebih mungkin untuk menggali masalah sehingga memiliki kesimpulan yang berbeda.
  1. Gordon Pennycook (Department of Psychology, University of Waterloo, Canada) et.al. Analytic cognitive style predicts religious and paranormal belief. Cognition. Volume 123, Issue 3, June 2012, Pages 335-346, DOI:10.1016/j.cognition.2012.03.003

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment