Siapa Pemilik Hak Menambang Asteroid?

Tinuku
News KeSimpulan.com - Barang-barang bertebaran di angkasa. Perusahaan tambang antariksa terus berpacu dan berburu. Siapa yang akan memiliki asteroid?

Dari semua kendala yang dihadapi perusahaan tambang antariksa Planetary Resources yang baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk survei asteroid untuk kandungan air, logam mulia dan sumber daya lain adalah masalah yurisdiksi hukum.

"Kami sebagai perusahaan Amerika Serikat tentu memiliki hak untuk pergi ke asteroid dan menggunakan sumber dayanya," kata Eric Anderson, pendiri Planetary Resources.

"Ini tujuan yang dinyatakan oleh pemerintah AS untuk mendorong dan mempromosikan aktivitas komersial dan ekonomi di ruang angkasa," kata Anderson.

Kebijakan ini mungkin dari sudut pandang nasional AS karena menambang asteroid mungkin bertentangan dengan 1967 United Nations Outer Space Treaty.

Sebuah kerangka bagi hukum ruang angkasa internasional. Amerika Serikat adalah satu di antara lebih dari 100 negara yang telah menandatangani perjanjian tersebut.

Pasal 2 perjanjian menyatakan "Outer space, including the Moon and other celestial bodies, is not subject to national appropriation by claim of sovereignty, by means of use or occupation, or by any other means."

Isu kepemilikan pribadi di ruang angkasa telah menjadi topik yang dibahas publik untuk mematikan khususnya selama dekade terakhir ini dengan berkembangnya entitas komersial ruang, kata Michael Gold, pengacara Bigelow Aerospace.

"Perjanjian PBB pada intinya melarang kepemilikan pribadi atas properti surgawi. Menurut perjanjian itu, Anda tidak bisa tiba di Bulan atau asteroid dan mengklaim kepemilikan, setidaknya sebagai sebuah negara," kata Gold.

"Membingungkan ketika Anda berbicara tentang kepemilikan oleh suatu perusahaan, tapi saya pikir pengacara akan memberitahu Anda bahwa mereka adalah satu di antaranya dan apakah sebuah perusahaan atau suatu bangsa tidak bisa, menurut perjanjian itu, mengklaim properti angkasa oleh swasta," kata Gold.

Gold meragukan perjanjian PBB tersebut menjadi penghalang bagi perusahaan-perusahaan teknologi seperti Planetary Resources yang berencana menambang sumber daya alam di luar Bumi.

"Bangsa manapun dapat menarik diri dari perjanjian dengan masa tenggang satu tahun, jadi saya pikir tidak akan memperlambat upaya seperti yang dilakukan Planetary Resources karena tidak ada alasan lain pihak Amerika Serikat akan menarik keluar dari perjanjian," kata Gold.

Gold mengatakan dasar hukum untuk menambang asteroid tidak akan terlebas dari masalah yang mengikuti perkambangan kemampuan teknis dan teknologi.

"Ini keyakinan bahwa pada akhirnya kemampuan akan mengalahkan hukum," kata Gold.

Planetary Resources berbasis di Bellevue, Washington, sedang mengembangkan jalur observatorium murah yang akan ditarik ke orbit Bumi dan dijual untuk entitas komersial, pendidikan dan penelitian untuk berbagai tujuan. Pada akhirnya, Planetary Resources akan mengirim wahana ke asteroid untuk menginventarisasi deposit dan teknik ekstraksi.

"Kami memiliki plan jangka panjang. Kami tidak berharap perusahaan ini financial homerun dalam semalam," kata Anderson.
Planetary Resources http://www.planetaryresources.com/
Bigelow Aerospace http://www.bigelowaerospace.com/

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment