Simpanse Berkisah Hominin Tidur Di Tanah

Tinuku
News KeSimpulan.com - Di mana manusia awal tidur? Tempat tidur simpanse petunjuk bagaimana leluhur manusia mulai meninggalkan kebiasaan tidur di pohon.

Bukti simpanse secara rutin menjauhkan diri dari keselamatan di puncak pohon dengan tidur di tanah memunculkan hipotesis bahwa beberapa hominin awal juga melakukannya dengan implikasi terhadap perkembangan kognitif.

Sekitar 3,2 juta tahun lalu Australopithecus afarensis memiliki lengkung di telapak kakinya. Sebuah adaptasi untuk berjalan di tanah.

Tapi mereka memiliki lengan panjang dan jari ramping yang menunjukan bahwa mereka masih terbiasa memanjat pohon.

Ini masuk akal bahwa kerangka Australopithecus aktif di tanah tetapi tidur di pohon pada malam hari untuk menghindari predator seperti yang dilakukan simpanse pada hari ini.

Jika ini terjadi, hominin mungkin tidak tidur di permukaan tanah sampai Homo erectus muncul 1,9 juta tahun lalu. Mereka tidak memiliki adaptasi tubuh untuk memanjat dan mungkin telah menggunakan api untuk menangkal predator di malam hari, meskipun bukti kemampuan mangelola api membentang kembali 1 juta tahun.

Simpanse Afrika barat (Pan troglodytes verus) di pegunungan Nimba di Guinea yang tidur di atas tanah mungkin mendahului inovasi tersebut. Koops Kathelijne, bioantropolog University of Cambridge, mendapati 634 tempat tidur di Nimba, 90 dibangun di tanah.

Koops dan rekan mengumpulkan rambut dari 46 sarang tanah. Analisis DNA menunjukkan setidaknya 12 simpanse tidur di tanah. Simpanse Nimba memiliki beberapa predator, tetapi sarang tanah yang sama juga terlihat di Republik Demokrasi Kongo di mana macan tutul juga hadir. Hal ini menunjukkan australopithecus mungkin juga telah tidur di tanah.

"Ground nesting dapat menjadi mapan meskipun kehadiran predator dan tanpa menggunakan api," kata Koops.

Tetapi Carol Ward, antropolog University of Missouri di Columbia yang bekerja dengan kerangka Australopithecus afarensis, memberi banyak poin perbedaan antara simpanse dan manusia awal untuk menarik kesimpulan tegas tentang perilaku manusia awal dari studi simpanse.

Tim White, antropolog University of California di Berkeley yang juga bekerja dengan kerangka Ardipithecus afarensis, merasa nyaman dengan hipotesis hominin tidur di tanah, meskipun dari bukti yang lain. Anatomi menunjukkan A. afarensis memiliki kompromi untuk memanjat pohon. Gorila juga secara rutin tidur di tanah.

"Ini baik untuk menerima sebuah studi yang menunjukkan bahwa [tidur di tanah] tidak selalu berhubungan dengan kemampuan mengontrol api," kata White.

Periode hominin mulai tidur di tanah mungkin penting bagi perkembangan kognitif, kata Thomas Wynn, antropolog University of Colorado di Colorado Springs. Memungkinkan lebih banyak malam dalam tidur REM yang penting untuk konsolidasi memori dan kognisi. Fitur umum tidur REM adalah otot lumpuh yang menyulitkan kera tidur di pohon.

Koops melihat tidur di tanah memiliki umpan balik dengan meningkatnya kognisi sehingga membantu hominin dalam mengusir predator di malam hari seperti menguasai api dan perkembangan kognitif lebih lanjut. Tetapi ini sulit untuk dibuktikan.

"Topik ini jauh ke dalam wilayah spekulasi," kata Ward.
  1. Kathelijne Koops (Department of Archaeology and Anthropology, Division of Biological Anthropology, University of Cambridge, Cambridge CB2 1QH, UK) et.al. Terrestrial nest-building by wild chimpanzees (Pan troglodytes): Implications for the tree-to-ground sleep transition in early hominins. American Journal of Physical Anthropology, 28 MAR 2012, DOI:10.1002/ajpa.22056

Koops Kathelijne http://www.human-evol.cam.ac.uk/Members/Students/kat.html
Carol Ward http://web.missouri.edu/~wardcv/Carol_Wards_site/Lab_Home.html
Tim White http://en.wikipedia.org/wiki/Tim_D._White
Thomas Wynn http://www.uccs.edu/anthro/faculty/thomas-wynn.html

Gambar : Thomas Lersch/En Wikipedia

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment