Konflik Empati Dengan Agresi dan Kekerasan

Tinuku
News KeSimpulan.com - Konflik manusia menyentuh berbagai topik, dari rasisme hingga terorisme. Apakah sifat manusia cenderung pada kekerasan atau kerjasama?

Apakah kita baik atau jahat? Apakah sifat sejati kita agresif dan kekerasan? Terorisme dijinakkan aturan sosial ataukah sebaliknya? Ataukah sebenarnya kita netral cenderung ke arah empati dan kerja sama, sementara kekerasan dan agresi adalah pengecualian?

"Survival of the fittest" dan "selfishness of genes" memperkuat hipotesis umum bahwa alam mengarahkan konflik. Hidup ditaklukkan melalui kompetisi.

Frans de Waal, primatolog Emory University, mengatakan setelah Perang Dunia II pandangan bahwa sifat manusia dominan agresif. Tapi banyak pertanyaan.

Beberapa saudara sepupu seperti Pan troglodytes bisa sangat agresif dan konflik teritorial sering mematikan.

Namun di antara semua primata kera, tebak siapa yang relatif terdekat kita? Bonobo. Mereka tidak hanya menunjukkan tanda-tanda empati dalam perilaku, tetapi juga dalam anatomi otak.

Spesies ini memiliki materi abu di area otak yang terlibat dalam persepsi marabahaya, termasuk right dorsal amygdala dan right anterior insula serta sirkuit untuk menghambat agresi. Meskipun sangat spekulatif, bukti empati berasal juga dari fakta bahwa monyet, seperti manusia, memiliki "mirror neurons".

Karena empati melibatkan perasaan individu lain, neuron cermin sering dianggap sebagai tanda empati. Berbagai empati berbasis perilaku telah diamati pada primata, tikus, dan gajah. Pada akhirnya pertentangan empati dengan agresi dan kekerasan, altruisme sering diikuti oleh rasa pemenuhan.
  1. Frans B. M. de Waal (Living Links, Yerkes National Primate Research Center; and Department of Psychology, Emory University, Atlanta, GA 30322, USA. E-mail: dewaal@emory.edu). The Antiquity of Empathy. Science 18 May 2012: Vol.336 no.6083 pp.874-876, DOI:10.1126/science.1220999

Gambar : www.buktidansaksi.com
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment