Pengurangan Deforestasi di Indonesia Lambat

Tinuku
News KeSimpulan.com - Larangan deforestasi Indonesia berjalan lambat. Melalui moratorium, tujuan perubahan iklim masih di luar jangkauan. Laporan di Conservation Letters.

Menghentikan deforestasi dan mengurangi emisi karbon di atmosfer dengan mengunci di pohon memakan waktu lebih dari hanya melarang izin pembukaan hutan. Indonesia merupakan rumah ketiga terbesar hutan tropis dunia. Moratorium 2 tahun untuk 65 juta hektar lahan dari kesepakatan US$1 miliar dengan Norwegia.

Inisiatif ini untuk melindungi hutan Asia Tenggara yang memotong emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada tahun 2020.

Upaya Indonesia untuk melestarikan hutan selangkah lebih maju dibanding sebagian besar negara-negara berhutan besar lainnya.

Tapi peta hutan, data yang makin akurat dan izin kehutanan jelas bahwa moratorium hanya memiliki sedikit efek terhadap laju deforestasi.

Namun demikian pemerintah Indonesia mengkonfirmasi komitmennya pada janji perubahan iklim dengan memperluas kawasan lindung dan izin perusahaan kelapa sawit dalam mengembangkan lahan gambut yang kaya karbon.

"Tidak ada negara lain telah melakukan hal seperti ini," kata Daniel Murdiyarso dari Center for International Forestry Research (CIFOR) di Bogor.

Transparansi pemerintah dalam menyediakan data dan izin kehutanan adalah sebuah "prestasi dan langkah maju", kata Murdiyarso, meskipun tidak akan berbuat banyak untuk mengurangi emisi karbon. Sedangkan Menteri Lingkungan Norwegia, Bard Vegar Solhjell, mengakui keterbatasan moratorium.

"Kita tahu moratorium itu sendiri tidak cukup untuk mencapai mitigasi iklim atau berjanji untuk menghentikan deforestasi pada kecepatan yang diperlukan," kata Vegar.

Lambatnya pengurangan deforestasi karena larangan izin-izin tidak seradikal yang diharapkan. Analisis CIFOR menemukan 42,5 juta hektar hutan moratorium sudah dilindungi oleh hukum Indonesia dengan hanya 22,5 juta hektar menerima perlindungan ekstra.

Versi lain peta hutan Indonesia menunjukkan pemerintah Indonesia sudah termasuk 862.000 hektar hutan dalam larangan tersebut, tetapi dikecualikan 482.000 hektar, sehingga hutan lindung bersih tambahan adalah 380.000 hektar.

Kunci untuk suksenya moratorium sukses yaitu beberapa jenis hutan memiliki nilai konservasi lebih besar dan karbon penyimpanan potensial dibanding yang lain, kata William Laurance, konservasionis James Cook University di Cairns, Australia.

Laurance dan rekan mempelajari peta hutan Indonesia dan menemukan bahwa moratorium tidak termasuk 46 juta hektar hutan rentan yang dikenal sebagai mixed-dipterocarp forest.

"The mixed-dipterocarp forests Indonesia termasuk paling penting secara biologis dan terancam di Bumi," kata Laurance.

Hutan-hutan yang tersisa dari moratorium karena sebelumnya telah dicatat sehingga dianggap kurang memiliki konservasi. Tapi apa yang tersisa begitu cepat dibersihkan untuk kelapa sawit dan perkebunan kayu pulp atau login kembali.

Laurance memuji pemerintah Indonesia untuk melindungi 11,5 juta hektar hutan yang tumbuh di lahan gambut yang kaya karbon. Jika gundul, daerah-daerah ini merilis hingga 8 kali lebih banyak karbon ke atmosfer dibanding di lahan kering.

Prioritas pemerintah Indonesia untuk tahun kedua dan terakhir dari larangan tersebut harus terus meningkatkan pengawasan hutan dan tata kelola izin, kata Nigel Sizer, direktur Global Forest Initiative di World Resources Institute, Washington DC.

"Ini menentukan apakah Indonesia bisa menghentikan deforestasi," kata Sizer.

Sizer menyambut langkah Indonesia membatalkan izin yang telah diberikan kepada Kallista Alam, sebuah perusahaan kelapa sawit yang berniat mengembangkan area lahan gambut di Aceh barat. Ijin tersebut telah diberikan setelah larangan diumumkan.

"Moratorium tidak sempurna tetapi membuat beberapa kemajuan. Tidak ada pilihan lain kecuali ke depan dan berharap yang terbaik. Indonesia terlalu besar jika gagal," kata Laurance.
  1. Sean Sloan, David P. Edwards, William F. Laurance (Centre for Tropical Environmental and Sustainability Science (TESS) and School of Marine and Tropical Biology, James Cook University, Cairns, Queensland 4870, Australia). Does Indonesia's REDD+ moratorium on new concessions spare imminently threatened forests? Conservation Letters, 10 APR 2012, DOI:10.1111/j.1755-263X.2012.00233.x

Gambar : SusanPage/Global Carbon Project
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment