Pola Diet Kayu Pohon Australopithecus sediba

Tinuku
News KeSimpulan.com - Bicara tentang diet tinggi serat, anggota terbaru keluarga manusia, Australopithecus sediba, cukup dengan makan kulit kayu.

Kulit kayu, daun dan buah lebih dari yang lebih buruk dibanding biasa dikomsumsi simpanse dan manusia. Manusia awal, Australopithecus sediba, 2 kerangka di Afrika Selatan, spesies peralihan yang berbagi fitur manusia modern dan simpanse memiliki gigi yang lebih buruk.

Tanda tangan isotop karbon dalam gigi mengungkap leluhur manusia mengunyah kayu, mungkin takut predator di lanskap terbuka sehingga memilih di hutan teduh.

Peneliti mengekstrak "phytoliths", plak di fosil gigi. Mineral jejak makanan A. sediba mengandung jaringan kayu, buah dan daun. Lebih mirip jerapah.

"Kami kembali ke masa 2 juta tahun lalu dan menonton leluhur kita mengunyah makanan," kata Lee Berger, paleontolog University of the Witwatersrand di Johannesburg.

Berger menjadi rockstar pada tahun 2010 ketika menemukan 2 kerangka Australopithecus sediba berdating 2 juta tahun yang luar biasa sebagai garis keturunan hominin yang terjebak dalam lubang gua di situs Malapa Afrika Selatan.

Sekarang Amanda Henry, paleoantropolog Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, dan tim internasional menemukan sedimen kulit kayu di gigi.

"Ini mengejutkan, belum pernah mendengar kulit terkait dengan pola makan sebelumnya, meskipun garis keturunan kita telah lama berpisah dengan simpanse," kata Peter Ungar, paleoantropolog University of Arkansas di Fayetteville.

Tapi primatolog tidak terkejut. Timline evolusi sebagian besar primata makan dari habitat yang berbeda seperti rumput savana dan umbi atau kudapan hewan. Primata lainnya juga mengunyah hal-hal yang keras. Monyet Rhinopithecus roxellana hingga simpanse makan kulit kayu saat-saat hidup sulit.

"Pohon merupakan fraksi cukup besar dalam diet orangutan," kata Madeleine Hardus, primatolog University of Amsterdam di Belanda.

Fosil-fosil di batu kalsifikasi begitu terjaga dengan baik. Para peneliti dapat menggunakan tiga metode yang berbeda untuk menganalisis diet. Enamel gigi masih menyimpan dengan baik tanaman mikroskopis yang terbentuk khas ketika tanaman yang berbeda menyerap silika.

"Ini benar-benar menarik bahwa mereka mampu mengekstrak phytoliths dari kalkulus gigi. Informasi penting tentang rincian konsumsi tanaman pada hominin," kata Leslie Aiello, presiden Wenner-Gren Foundation for Anthropological Research di New York.

Tes metode phytoliths pernah diterapkan pada Neanderthal. Sekarang tim mengambil 38 phytolith dari 2 gigi Australopithecus sediba. Mineral dari buah, daun, kayu dan kulit kayu, juga rumput teki tahunan yang tumbuh di hutan tropis atau teduh, tetapi tidak di savana terbuka.

Sementara itu, Matt Sponheimer, paleontolog University of Colorado di Boulder, dan rekan menggunakan laser untuk mengikis bagian enamel gigi kurang dari 1 milimeter yang merilis 2 isotop unsur karbon yaitu 13C dan 12C.

Rasio 2 isotop mencerminkan jenis vegetasi ketika gigi anak-anak terbentuk. Tanaman yang kurang mengandung 13C disebut tanaman C3 seperti pohon ara dan pohon yang tumbuh di tempat teduh atau hutan. Tanaman yang mengandung banyak 13C disebut tanaman C4 termasuk rumput yang tumbuh di bawah sinar Matahari.

Australopithecus sediba memakan tanaman C3 lebih dari hominin lain. Tidak biasa untuk hominin dan lebih khas diet jerapah. Di antara hominin paling mirip Ardipithecus ramidus yang lebih primitif, berdating 4,4 juta tahun di Ethiopia.

Tim juga menyelidiki pola keausan mikroskopis atau microwear gigi. Australopithecus sediba makan makanan keras mirip Australopithecus robustus dan Homo erectus, tetapi tidak selembut makanan yang dikonsumsi oleh Australopithecus africanus, spesies lain Afrika Selatan yang dekat dengan A. sediba.

Secara keseluruhan Australopithecus sediba mencari daun, buah dan kulit pohon di hutan, bukan rumput yang melimpah. Mereka lebih suka makan di hutan seperti anatomi kera dengan lengan panjang, pinggul sempit dan tumit primitif yang disesuaikan untuk memanjat pohon. Mirip simpanse savana hari ini.

"Laporan memaksa hipotesis ulang tentang diet dan dengan demikian perilaku garis keturunan leluhur langsung kita. Australopithecus sediba memiliki makanan yang lebih khas Ardipithecus ramidus dibanding diet australopith lainnya," kata Margaret Schoeninger, antropolog University of California di San Diego.

Berbagai spesies masih dijajaki dengan berbagai macam habitat dan lingkungan. Jadi bukan hanya satu jenis adaptasi. Di ruang terbuka lebih banyak ancaman predator. Di hutan, meskipun ukuran kelompok sosial lebih kecil, hidup lebih aman. Dan fakta bahwa semua anggota keluarga manusia masih mencari makan di hutan hingga 2 juta tahun lalu.
  1. Amanda G. Henry (Plant Foods and Hominin Dietary Ecology Research Group, Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Deutscher Platz 6, 04103 Leipzig, Germany) et.al. The diet of Australopithecus sediba, Nature, 27 June 2012, DOI:10.1038/nature11185

Gambar : Amanda Henry (atas) dan Lee Berger (bawah)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment