Mega es Longsor Di Tebing Bulan Iapetus

Tinuku
News KeSimpulan.com - Mega es longsor di bulan Saturnus. Iapetus memiliki aliran cair. Di bibir Kawah Malun, probe Cassini merekam gemuruh longsoran es.

Puncak es, bulan bergetar, gunung dan pegunungan menjulang setinggi Everest. Iapetus yang dingin, salah satu bulan Saturnus menjadi tempat yang aneh. Ketika dinding kawah terkikis, longsoran bergemuruh meluncur 8 kilometer ke lantai kawah.

Di permukaan dunia kecil, bongkahan es terjatuh dari pegunungan tinggi, menambah kecepatan karena jatuh.

Ketika es bergerak cukup cepat, materi bertindak seperti fluida.

Di bibir Kawah Malun, probe Cassini memotret bongkahan meluncur 35 km ke dasar dinding kawah sekitar 4 kali jarak vertikal sebelum akhirnya memperlambat berhenti.

"Kita melihat tanah longsor di mana-mana di tata surya. Tapi Iapetus bulan es. Kita tidak memiliki kisaran dengan tanah longsor di Bumi dan Mars," kata Singer Kelsi, planetolog Washington University di St Louis.

Perilaku ini tidak sepenuhnya asing di permukaan Mars. Namun Iapetus membingungkan karena jarak sangat besar. Di Bumi, tanah longsor cenderung berhenti kurang dari 2 kali jarak dari asal situs, tetapi es dapat menempuh perjalanan hingga 30 kali.

Kelsi Singer dan rekan menduga peristiwa ini karena pemanasan materi yang jatuh dan membantu terus bergerak yang secara efektif menurunkan gesekan. Pada kecepatan cukup tinggi, titik gesekan begitu panas sehingga terus mengalir.

"Anda mungkin berpikir gesekan adalah sepele, tapi tidak. Dan berlaku untuk gesekan antara es dan antara batuan. Ini sangat penting, tidak hanya tentang tanah longsor, tetapi juga untuk gempa Bumi dan stabilitas tanah," kata William McKinnon, planetolog Washington University di St Louis.
  1. Kelsi N. Singer (Department of Earth and Planetary Sciences and McDonnell Center for the Space Sciences, Washington University in St Louis, 1 Brookings Drive, St Louis, Missouri 63130-4862, USA). et.al. Massive ice avalanches on Iapetus mobilized by friction reduction during flash heating. Nature Geoscience, 29 July 2012, DOI:10.1038/ngeo1526

Gambar : Image: NASA/JPL/Space Science Institute
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment