Suhu Ekstrim Kepunahan Massal Periode Trias

Tinuku
News KeSimpulan.com - Sekitar 249 juta tahun lalu Bumi begitu panas. Suhu terik secara langsung menyebabkan peristiwa kepunahan, salah satu waktu terjadi dalam sejarah Bumi.

Banyak spesies tidak dapat bertahan hidup di daerah tropis dan hanya bisa betahan di dekat wilayah kutub. Pukulan gelombang panas ekstrim terjadi pada periode Triassic awal ketika dinosaurus pertama kali berevolusi.

Bumi baru saja pulih dari kepunahan besar Permian yang melanda 252 juta tahun lalu dan menyapu bersih 80 sampai 90 persen spesies.

Letusan gunung berapi di Siberia memiliki konsekuensi mematikan seperti merampas lautan oksigen dan mungkin menyebabkan kepunahan.

"Ini kali terpanas Bumi karena didinginkan dari gumpalan cair," kata Paul Wignall, enviromentalis University of Leeds di Inggris.

"Biasanya mulai pulih dalam waktu puluhan atau ratusan ribu tahun. Sebaliknya ‘zona mati’ berlangsung hampir 5 juta tahun. Kita tidak pernah tahu mengapa," kata Wignall.

Ekosistem global bangkit kembali dari kepunahan pasca Permian Akhir. Wignall dan rekan menggunakan fosil conodont untuk merekonstruksi suhu Triassic Awal. Rasio isotop oksigen dalam struktur seperti gigi dan kerang tergantung pada suhu.

Suhu meningkat terus selama 3 juta tahun pasca kepunahan Permian Akhir, mungkin didorong pulsa emisi gas rumah kaca dari letusan gunung berapi Siberia dan kurangnya limpahan tanaman untuk menyerap karbon dioksida dari atmosfer.

Suhu 249 juta lalu mencapai puncaknya ketika kepunahan Smithian-Spathian. Acara ini menghapus spesies jauh lebih sedikit dibanding kepunahan Permian Akhir karena hanya ada sedikit spesies yang tersisa untuk terbunuh.

Pada saat itu suhu permukaan laut tropis mencapai 40oC sedangkan di perairan dalam lebih dingin beberapa derajat. Suhu tanah lebih berfluktuasi dibanding air laut, mungkin 50oC atau 60oC.

"Musim panas tropis mematikan," kata Wignall.

Panas yang ekstrim dijelaskan dalam pola aneh catatan fosil. Spesies Besar dan ikan menghilang dari daerah tropis tetapi bertahan di kutub. Hanya spesies bergerak seperti moluska bisa merespon. Sebagian besar daratan hampir tidak memiliki tanaman.

Suhu yang kembali normal 247 juta tahun lalu di mana hewan besar aktif dan tanaman kembali ke daerah tropis. Kepunahan massal banyak bertepatan dengan pemanasan global, tetapi suhu itu sendiri bukanlah faktor membunuh.

Wignall mengatakan suhu ekstrim Trias tidak akan terulang. Bumi tetap bisa dihuni manusia dalam beberapa abad mendatang. Tapi panas yang ekstrim dikombinasikan dengan kelembaban menjadi fatal bagi manusia karena keringat tidak bisa mendinginkan.
Yadong Sun (State Key Laboratory of Geobiology and Environmental Geology, China University of Geosciences (Wuhan), Wuhan 430074, People’s Republic of China; School of Earth and Environment, University of Leeds, Leeds LS2 9JT, UK) et.al. Lethally Hot Temperatures During the Early Triassic Greenhouse, Science 19 October 2012: Vol.338 no.6105 pp.366-370, DOI:10.1126/science.1224126
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment