Orangutan Sumatera Pongo abelii Punya Ide

Tinuku
News KeSimpulan.com - Orangutan memiliki ide besar. Bahkan ketika masih sangat muda, orangutan mulai membentuk tradisi budaya ide-ide tentang dunia mereka.

Tradisi budaya primata tidak jauh berbeda di antara kera besar. Seperti halnya manusia, orangutan memiliki tradisi perilaku berbeda di setiap wilayah. Orangutan dalam satu wilayah memanfaatkan alat tertentu, sedangkan yang lainnya tidak.

Orangutan Sumatera (Pongo abelii) usia 6 tahun yang hidup di rawa barat Sungai Alas Sumatera menggunakan tongkat untuk mendeteksi madu.

Namun para peneliti tidak pernah mengamati perilaku "mencelupkan madu" tersebut di antara orangutan di wilayah pesisir timur.

Banyak ilmuwan mengatakan pembelajaran sosial adalah kunci kera mencari cara untuk mencari madu dengan meniru orang lain. Ide datang dari budaya, bukan kognitif.

Tetapi peneliti mengalami kesulitan membuktikan hal ini. Kera liar selalu menanggapi lingkungan dan mempengaruhi perilaku lebih jauh dibanding pembelajaran sosial. Deforestasi membawa implikasi besar terhadap lingkungan dan pembelajaran sosial.

Sejumlah besar anak yatim orangutan berasal dari kedua sisi Sungai Alas berakhir di tempat penampungan Batu Mbelin Sumatera Utara. Pada awalnya mereka dikarantina dan kemudian dipindah ke kelompok sosial yang lebih besar.

Thibaud Gruber, psikolog University of Zurich's Anthropological Institute & Museum di Swiss, dan rekan mempelajari mereka yang ditampung di Batu Mbelin karena kerusuhan politik. Tim memberikan 2 tongkat berbasis tantangan untuk menggapai makanan dan mencelupkan madu.

Apes dari kedua sisi sungai meraih makanan dengan tongkat relatif cepat. Semua memahami tongkat sebagai sebuah alat. Tapi hanya 2 dari 10 orangutan dari sisi timur mampu menggunakan tongkat untuk madu dibanding 9 dari 13 dari sisi barat.

Terlebih lagi, kera cerdas di sisi barat rata-rata berumur 4 tahun, terlalu muda untuk mulai mencelup madu ketika mereka berada di alam liar. Gruber mengusulkan bahwa cara-cara spesifik menggunakan alat datang dari mengamati orang lain.

Gruber menyebut representasi mental seperti penggunaan tongkat sebagai "ide-ide budaya". Jika memang benar-benar maka perbedaan perilaku di antara kera lebih dekat dengan perbedaan pada manusia yang juga sering berasal dari ide-ide budaya.

"Hilangnya habitat mereka juga berarti hilangnya budaya mereka," kata Gruber.
Thibaud Gruber (Centre Norbert Elias, EHESS, 13002 Marseille, France; Anthropological Institute & Museum, University of Zurich, 8057 Zurich, Switzerland) et.al. Sumatran Orangutans Differ in Their Cultural Knowledge but Not in Their Cognitive Abilities. Current Biology, Volume 22, Issue 23, 2231-2235, 08 November 2012, DOI:10.1016/j.cub.2012.09.041

Gambar : Thibaud Gruber et.al.
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment