Transmisi Budaya Monyet dan Paus

Tinuku
News KeSimpulan.com - Bukti terkuat transmisi kebudayaan dan modeling Monyet Vervet (Chlorocebus aethiops) dan Paus Humpback (Megaptera novaeangliae).

Banyak ilmuwan mengira hanya manusia pemilik budaya, tetapi ide itu terus tergerus.

Dua laporan terbaru pada monyet dan paus makin menegaskan bahwa tradisi budaya terbentuk dan membantu spesies bertahan hidup dan berkembang.

Para peneliti terus berdebat mendefinisikan budaya, namun sebagian besar setuju bahwa perkembangan budaya melibatkan adopsi kolektif dan transmisi satu atau lebih perilaku antar kelompok.

Kemampuan manusia membuat dan mentransfer tren budaya baru membantu spesies ini mendominasi Bumi karena setiap generasi baru mendapat keuntungan dari pengalaman generasi sebelumnya. Tapi manusia bukan satu-satu yang mampu meniru.

Konformitas dan transmisi budaya berlaku sama, meskipun sederhana pada ikan, serangga, Meerkat, burung, monyet dan kera. Terkadang sifat-sifat budaya tampak aneh tapi menyebar dari waktu ke waktu. Seperti pada manusia, sebuah trend baru muncul ketika semua orang mulai melakukannya.

"Pembelajaran sosial lebih kuat membentuk perilaku dibanding trial and error di alam liar," kata Andrew Whiten, primatolog University of St Andrews, Inggris.

Whiten dan rekan bermain-main dan mengamati 109 Monyet Vervet (Chlorocebus aethiops) di KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Empat kelompok berdasarkan strata sosial disajikan dua kotak berisi masing-masing jagung manis dan pahit.

Selama periode 3 bulan, monyet belajar sepenuhnya dan menghindari makanan pahit. Empat bulan kemudian setelah 27 monyet bayi beranjak besar juga tidak memilih jagung pahit dan hanya makan jagung yang disukai ibunya. Mereka makan atas norma-norma kelompok.

"Laporan ini menonjol karena dilakukan di alam liar. Tingkat konformisme sampai sekarang sulit dilakukan," kata Frans de Waal, primatolog Yerkes National Primate Research Center di Emory University.



Laporan kedua, Jenny Allen, biolog University of St Andrews, Inggris, memeriksa data 27 tahun perilaku makan Paus Humpback (Megaptera novaeangliae) dari Teluk Maine di lepas pantai timur Amerika Serikat. Individu yang menghabiskan lebih banyak waktu bersama lebih mungkin menularkan konformisme.

"Kompleksitas perilaku Humpback dan ini akar dalam pembelajaran sosial," kata David Wiley dari US National Oceanic and Atmospheric Administration di Scituate, Massachusetts.




Erica van de Waal (Centre for Social Learning and Cognitive Evolution, and Scottish Primate Research Group, School of Psychology and Neuroscience, University of St Andrews, St Andrews KY16 9JP, UK; Inkawu Vervet Project, Mawana Game Reserve, Swart Mfolozi, KwaZulu Natal 3115, South Africa) et.al. Potent Social Learning and Conformity Shape a Wild Primate’s Foraging Decisions. Science, 26 April 2013: Vol.340 no.6131 pp.483-485, DOI:10.1126/science.1232769

Jenny Allen (Sea Mammal Research Unit and Centre for Social Learning and Cognitive Evolution, School of Biology, University of St Andrews, Fife KY16 8LB, UK; Whale Center of New England, Post Office Box 159, Gloucester, MA 01931–0159, USA) et.al. Network-Based Diffusion Analysis Reveals Cultural Transmission of Lobtail Feeding in Humpback Whales. Science, 26 April 2013: Vol.340 no.6131 pp.485-488, DOI:10.1126/science.1231976

Gambar : Erica van der Waal (atas), Whale Center of New England (bawah)
Video : Erica van de Waal et.al., Science, DOI:10.1126/science.1232769
YouTube : KeSimpulan.com http://www.youtube.com/user/KeSimpulanTube

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment