Lumpur Sidoarjo Akibat Gempa

Tinuku
News www.KeSimpulan.com - Bencana lumpur di Sidoarjo mungkin memiliki penyebab alami. Gempa, bukan pengeboran, kemungkinan penyebab semburan tahun 2006 di Jawa Timur.

Aliran lumpur menyapu bersih sebuah kota Jawa Timur tahun 2006 mungkin tidak dipicu pengeboran komersial yang sebelumnya diteriakkan. Laporan baru memberi bukti gelombang seismik gempa sebelumnya. Formasi geologi yang tidak biasa memobilisasi lumpur bawah tanah.


Pada tanggal 29 Mei lumpur mulai mengalir dari tanah di tengah sawah dekat Sidoarjo di Jawa Timur segera berubah menjadi bencana mengerikan seperti lumpur tanpa henti dan semua upaya untuk menutup lubang sia-sia. Pada akhirnya sekitar 40.000 warga kehilangan rumah.

Letusan LUSI (Lumpur Sidoarjo) setiap 30 detik atau lebih di tengah-tengah kawah selebar 100 meter. Lumpur mungkin berasal lebih dari 1 kilometer di bawah lapisan tanah liat yang tersimpan dalam skala waktu geologi dan entah bagaimana menjadi cair dan menemukan retakan ke permukaan.

Tapi apa yang memicu bencana telah menjadi bahan perdebatan panas ilmiah hingga bergeser menjadi santapan politik. Beberapa peneliti mengatakan penyebab oleh pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan minyak dan gas.

Lapindo Brantas melaporkan penelitian sendiri dan menolak tanggung jawab atas bencana tersebut. Meskipun demikian, sejak tahun 2006 perusahaan telah mengeluarkan sekitar US$570 juta dalam bentuk bantuan bencana kepada penduduk dan masyarakat terkena dampak.

"Sangat sulit untuk percaya bahwa pengeboran bakal menyebabkan erupsi besar seperti ini," kata Adriano Mazzini, geologi University of Oslo di Norwegia.

Banyak peneliti lebih cenderung berpikir disebabkan gempa dangkal berkekuatan 6,3 yang menghantam Yogyakarta 250 kilometer jaunya 47 jam sebelum semburan lumpur. Tetapi beberapa geolog menyatakan gelombang seismik memancar dari pusat gempa tidak cukup memicu respons tektonik jarak jauh.

Sekarang Stephen Miller, geofisikawan University of Bonn, mendukung teori alami, bukan perbuatan manusia. Menggunakan data seismik dari lokasi bencana, Miller mengidentifikasi lapisan keras dan batu berbentuk seperti parabola raksasa yang duduk di atas reservoir lumpur.

"Ini reaksi berantai. Energi seismik dari gempa, tercermin dan difokuskan oleh batuan sekitarnya menjadi cukup terkonsentrasi untuk mencairkan sumber lumpur," kata Miller.

Kontroversi penyebab letusan memberi jalan bantuan kemanusiaan lebih efektif kepada masyarakat terkena dampak, kata Jeffrey Richards, direktur eksekutif Humanitus Sidoarjo Fund di Melbourne, Australia, sebuah badan amal mitra pemerintah Indonesia tentang isu-isu ilmiah dan sosial di wilayah bencana.

"Ini saat untuk mengubur kontroversi sia-sia dan lebih fokus membantu masyarakat Indonesia untuk mengatasi bencana epik yang tidak bisa mereka tangani sendiri," kata Richards.
M. Lupi (Geodynamics/Geophysics, Steinmann Institute, University of Bonn, 53115, Germany) et.al. Lusi mud eruption triggered by geometric focusing of seismic waves. Nature Geoscience, 21 July 2013, DOI:10.1038/ngeo1884
Richard J. Davies (Centre for Research into Earth Energy Systems (CeREES), Department of Earth Sciences, University of Durham, Science Labs, Durham, DH1 3LE, UK) et.al. The East Java mud volcano (2006 to present): An earthquake or drilling trigger? Earth and Planetary Science Letters, Volume 272, Issues 3-4, 15 August 2008, Pages 627–638, DOI:10.1016/j.epsl.2008.05.029
Nurrochmat Sawolo (Energi Mega Persada, Wisma Mulia 22nd Floor, JI. Jend. Gatot Subroto 42, 12710, Jakarta Indonesia) et.al. The LUSI mud volcano triggering controversy: Was it caused by drilling? Marine and Petroleum Geology, Volume 26, Issue 9, November 2009, Pages 1766-1784, DOI:10.1016/j.marpetgeo.2009.04.002
A. Mazzini (Physics of Geological Processes, University of Oslo, Sem S├Žlandsvei 24, Box 1048, 0316 Oslo, Norway) et.al. Strike-slip faulting as a trigger mechanism for overpressure release through piercement structures. Implications for the Lusi mud volcano, Indonesia. Marine and Petroleum Geology, Volume 26, Issue 9, November 2009, Pages 1751–1765, DOI:10.1016/j.marpetgeo.2009.03.001
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment